Selasa, 24 Januari 2017

Memerangi Hoax di Medsos ala Jerman

Memerangi Hoax di Medsos ala Jerman
Saat ini, Media sosial terbesar, Facebook, berencana membuat berbagai tool untuk mencegah adanya penyebaran berita yang dianggap bohong. Para pengguna media sosial, akan bisa menandai beberapa artikel yang dianggap bohong pada laman beranda mereka. Media sosial yang didirikan Mark Juckenber tersebut akan bekerja sama dengan pelbagai organisasi semacam page penguji fakta untuk memeriksa keaslian sebuah berita.

Sepertinya, rencana tersebut dianggap belum cukup. Negara Jerman menilai bahwa berkembangnya berita dan artikel bohong tak bisa lepas dari “hole” yang selama ini seperti dibiarkan dalam jaringan penyedia Media Sosial. Jaringan yang luas tersebut ternyata mampu memberikan dampak negatif dengan masif. Pemerintah negara tersebut menilai perlu ada upaya jelas dan tegas. Maka muncullah wacana hukuman denda untuk para pembuat kabar bohong alias hoax. 

Parlemen setempat, pada awal tahun ini mengemukakan rencana membuat peraturan yang berisi ketentuan denda bagi berbagai perusahaan media sosial setiap kali ada berita palsu ataupun bohong yang dipublish oleh penggunanya pada laman masing-masing. Sebagai langkah konkrit, maka diusulkan denda bagi pelanggar senilai 50 ribu euro (Rp7 miliar) tiap item hoax yang terpublikasikan. Yang menarik, mereka juga memberikan ultimatum: jika Facebook atau media sosial lain dalam jangka waktu 24 jam tidak menghapus konten yang meresahkan maka mereka diharuskan membayar biaya penalti hingga 500 ribu euro. 

Berbagai dukungan mengalir mengenai peraturan tersebut. Masyarakat Jerman sadar bahwa konten-konten hoax terutama yang berisi kebencian hanya akan membuat masyarakat terprovokasi serperti halnya jaman Hitler untuk membeci suatu ras. Kekhawatiran ini beralasan sangat kuat. Para pemangku kebijakan di Jerman telah belajar dari banyaknya hoax ketika kampanye dan pemilu Amerika Serikat pada bulan November lalu. Banyaknya konten negatif dan bohong ini ternyata membuat demokrasi kehilangan esensinya. Jerman akan melangsungkan Pemilihan parlemen pada tahun 2017 mendatang. 

Tentu mereka tidak ingin mengulang kekeliruan Amerika Serikat dalam acara pemilunya sendiri karena menyebabkan rakyat Jerman yang akan dirugikan. Ketika Globalisasi melaju begitu pesat, debat politik berkembang di tempat dan lingkungan yang tentu baru. Opini yang terbentuk tentu berbeda dengan dekade sebelumnya. Maka dari itu penyebaran berita palsu harus segera ditindaklanjuti.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Pangeran Tadas